Sore itu orang-orang sekampung
nimbrung, bergunjing tentang seorang wanita.
Tangisnya miris, meratapi yang mati:
anjing kesayangannya
Kabarnya, seorang pria muda nan perkasa
(yang belakangan jadi suami barunya)
telah menggorok si anjing tua. Bengis, bak mengusap najis
tanpa kata, tanpa aba-aba, tanpa dosa…
Tubuh gelepar, urat-urat getar, darah tebar!
Leher putus, pertanda hitung mundur menuju mampus
Anyir bau darah yang percik pada terompah
Menuntun si anjing pikun pada maut
yang, barang sekali saja, tak pernah luput
Kata mereka, sesaat saja mata sang wanita pelan-pelan berkaca-kaca.
Karena tak kan dia dengar lagi gonggong yang sumbang
pada tiap senja jingga, menjemput malam ungu datang
(atau jilatan mesra, saat malam berlabuh pada semilir subuh)
Tak kan dia salahkan si pria muda nan perkasa
yang belakangan dinikahinya. Meski dosa telah dicatat
lipat ganda: wanita itu adalah ibu kandungnya
Si anjing tua adalah ayah kandungnya
Sang pria muda diam. Api damar padam. Malam jadi kelam…
Dia ingat kata Muhammad: Jangan kau terlalu membenci!
Siapa tahu, cinta kan pelan-pelan bersemi…
“Oh, Ibuku! Cintaku padamu polos tanpa nafsu
seperti putih air susu. Cerai kita mencair, terganti
pada bakti yang mungkin hanya sebesar biji sawi
Kau tahu, rinduku padanya membatu: haru-biru!
Biar kumakamkan jasad ayah
dengan tanganku…”
Di sudut perpustakaan itu
Pada secarik catatan, diam-diam
kutulis sajak buatmu.
Latar belakangku deretan rak
penuh buku-buku. Di sampingku
setumpuk antologi puisi:
yang liris, yang sureal,
yang biasa dibuat koar-koar
di atas mimbar.
Ah, pertemuan kita tak teramat naif
Lebih arif dari sekadar kencan buta
(pada suatu Sabtu, kau pinjami aku
sebuah buku. Dengan tinta
merahmuda, tertera di sudutnya:
cinta berawal dari pustaka…)
Di sudut lain, di sebelah rak
dengan tanda 895: Sastra Indonesia
Seseorang dengan mata pedih, berkata lirih:
“kembalilah ke dunia nyata, hai kau Penyair Muda!”
Tik-tok waktu tiba-tiba
henti membatu
Sial! Hilang kemana
kertas catatanku?
Yogyakarta, 24 Maret 2011
Aku, Kamu, dan Foto Yang Kau Sobek Separuh Itu
Di muka pintu masih
bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali
Memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak
mengerti—mengapa ia tinggal diam
waktu berpisah. Bahkan tak
ada kesan kesedihan
pada muka
dan mata itu, yang terus
memandang, seakan mau bilang
dengan bangga:—Matiku muda—
Ada baiknya
mati muda dan mengikut
mereka yang gugur sebelum waktu
Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit
tua, melainkan dia
yang berdiri menentang angin
di atas bukit atau dekap pantai
di mana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam
di gigir gunung atau di taman-taman
di kota
tempat anak-anak main
layang-layang. Di jamlarut
daun ketapang makin lebat berguguran
diluar rencana
Dan kematian jadi akrab, seakan kawan
berkelakar
yang mengajak
tertawa—itu bahasa
semesta yang dimengerti
Berhadapan muka,
seperti lewat kaca
bening
Masih dikenal raut muka,
bahkan kelihatan bekas luka
dekat kening
Ia menggapai tangan
di jari melekat cincin.
—Lihat, tak ada batas
antara kita. Aku masih
terikat kepada dunia
karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih,
juga angan-angan dan selera
keisengan—
Di ujung musim
dinding batas bertumbangan
dan
kematian makin akrab.
Sekali waktu bocah
cilik tak lagi
sedih karena layang-layangnya
robek atau hilang
—Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit—
(Subagio Sastrowardoyo, 1970)
Di langit, arak-arakan awan ke utara
Lalu mendung diam-diam
menguntit dibelakangnya
(ah, hujan tinggal menunggu waktu
untuk ditaburkan!)
Di darat, keretaangin lalu-lalang.
Tergesa. Mungkin berlomba dengan
tik-tok jam: mengejar nasib yang sudah
sampai duluan di garis depan
Di kamar, lamat-lamat kudengar
seniman asing berlagu tentang kematian
yang gapyak itu. Katanya: “bencana
bisa diciptakan kapan saja!”
Di gunung itu, aku tak tahu
masihkah Sisifus setia mendorong batu?
Salahnya telah diganjar sebuah hukuman
Sesalnya dia bayar dengan pengulangan-pengulangan
Kata orang: hidup ini apokaliptik
Kata yang lain: sejarah belum sampai titik!
Dan katamu, Sayangku:
“Akan kubawa kau terbang
ke pantai yang sepi nan lapang.
Meski kita tahu, di atas cakrawala itu
berserakan batu, bilah kayu, pecahan botol, dan
gedung-gedung yang hitam terpanggang…”
Gampingan, 2 Maret 2011
Di antara gugur cemara
dan cubit surya yang malu-malu
lamat-lamat kulihat wajahmu
Kaupungut satu yang jatuh di pasir:
kering, layu, ranggas
lalu kabur bersama muson barat
Ah, pertemuan selalu gegas
Meski salah satu kita datang terlambat
Senja telah beruluk salam, Abang...
Tapi tak jua kau antarkan aku pulang
Aku masih waras. Masih bisa
menulis sebait prosa, tentang ikal yang jatuh
perlahan di antara senyummu
Tentang anak-anak puisi
yang selalu mengusik tidurku itu?
Apa kita musti pulang sendiri-sendiri?
Kurasa begitu...
Aku mau naik pedati
Aku pilih jalan kaki
Maaf ya kalau badanku bau…
Karena peluhku adalah anak-anak gerimis
yang ikut berlarian sepanjang sekian kilometer
kukayuh sepeda menuju rumah mungilmu itu
Apa peduliku, Ksatria?
Toh lelah badanku juga tak kalah bau…
Memasak kastangel keju sungguh menyita
detik-detikku untuk sekadar berdandan buatmu
Tapi duhai beruntungnya aku!
Karena sebelum pulang, kata pamit adalah
kecupku pada tetes mungil peluh di lembut keningmu
Sudah-sudah pulang sana!
Lekaslah mandi, ganti baju
lalu kenanglah aku…
Melihat Demokrasi dengan Kacamata The Shock Doctrine
The Shock Doct
rine (2009) merupakan film dokumenter yang dibuat berdasarkan buku karangan Naomi Klien dengan judul yang sama. Di bawah arahan Mat Whitecross dan Michael Winterbottom, film ini berusaha menampilkan sebanyak dan sepadat mungkin informasi yang, tentu saja, digali lebih mendalam dan mendetail dalam buku aslinya. The Shock Doctrine (selanjutnya disingkat TSD, merujuk kepada buku maupun film) berusaha menjelaskan modus operasi ekonomi kapitalisme lanjut yang diterapkan oleh negara-negara adidaya seperti Amerika. Bahwa ternyata argumentasi “sistem kapitalisme akan mendorong kehidupan politik yang demokratis” atau sebaliknya “iklim politik yang demokratis memungkinkan sistem ekonomi kapitalis dapat hidup” tidak sepenuhnya benar. Dalam pengertian Karl Marx, yakni kapitalisme sebagai satu mode produksi, ternyata menyebar, berjalan, dan pada akhirnya meraup keuntungan dengan cara yang sangat brutal. Kapitalisme membutuhkan efek kejut agar dapat diterima sebagai satu-satunya sistem ekonomi dalam suatu konteks masyarakat. Atau lebih jelasnya, ketika masyarakat dilanda krisis tiba-tiba – baik yang given seperti bencana alam, atau yang designed seperti perang – maka semua orang akan berpikir tentang kepentingan pribadi mereka yang terusik. Di situlah pintu masuk kapitalisme: lewat bantuan pendidikan, rekonstruksi tempat tinggal, investasi, atau bahkan pada level yang lebih makro seperti perombakan sistem ekonomi nasional.
Beberapa contoh kasus coba ditampilkan guna menunjukkan betapa vulgarnya proses munculnya ‘kapitalisme bencana’ tersebut. Pemerintahan demokratis Salvador Allende dengan kebijakan-kebijakan ekonominya yang sosialis, harus runtuh oleh kudeta berdarah pimpinan Jenderal Augusto Pinochet yang kemudian menjadi pintu masuk bagi sistem ekonomi kapitalis, dengan Milton Friedman dan The Chicago Boys sebagai punggawanya. Allende sendiri tewas mengenaskan dalam kudeta tersebut. Begitu juga saat terjadi Perang Irak, yang memaksa Saddam Husein harus rela mati di tiang gantungan dan membuka jalan bagi para kontraktor dan konsultan ekonomi untuk masuk dan “membuka lahan baru”, dengan dalih rekonstruksi fisik dan non-fisik pasca perang. Hal yang sama berlaku saat terjadi bencana tsunami yang melanda sebagian wilayah Sri Lanka, India, dan Sumatera. Naomi Klien sendiri pernah melakukan studi lapangan pasca-tsunami di Sri Lanka. Fakta mencengangkan dia temukan: tanah-tanah milik nelayan yang jadi korban tsunami dibeli oleh para investor dan dijadikan hotel berbintang. Secara psikologis, apalagi yang bisa diharapkan korban tsunami selain kucuran dana para investor di tengah desperate situation macam itu?
Dari kacamata TSD tersebut, kita dapat menyoal dan mengkritisi model demokrasi liberal yang selama ini diagung-agungkan dan disebarkan idenya oleh negara seperti Amerika. Ternyata demokrasi liberal tidaklah se-“demokratis” yang kita bayangkan. Penyebaran gagasan demokrasi liberal justru dilakukan dengan cara yang brutal, keras, dan memakan korban. Bila Amerika memandang pemerintahan Saddam Husein di Irak sebagai sebuah kediktatoran yang kejam, dan untuk itu perlu untuk didemokratiskan, sebenarnya sungguh kontradiktif karena Amerika memulainya dengan perang yang jelas berpotensi merusak. Penyebaran gagasan demokrasi liberal, laiknya sistem ekonomi kapitalis, juga memerlukan shock therapy, agar si pasien terapi (dalam kasus ini: korban perang) menjadi gamang dengan apa yang sedang terjadi dan pada akhirnya siap menelan mentah-mentah ideologi apa yang sedang disuntikkan kepada mereka. Rakyat Irak sebagai korban perang, terutama yang pro-Saddam, mungkin terbersit juga di benak mereka untuk resisten terhadap kebijakan Amerika. Tetapi mereka tidak tahu harus melawan dengan cara apa. Itulah yang disebut Naomi Klien sebagai kondisi shocked/ terkejut.
Mungkin bisa pula kita katakan demokrasi liberal dan sistem kapitalisme – meski hubungan keduanya seringkali ambivalen – adalah satu paket: artinya, bisa disebarkan baik dengan cara yang paling bersahabat atau dengan cara yang paling violent seperti yang digambarkan secara jeli dalam TSD. Bukti konkretnya, ketika perang Irak berlangsung hingga Juli 2007, tercatat lebih banyak jumlah kontraktor daripada tentara Amerika yang datang ke Irak, tentu sebagai pemain dalam ‘lahan basah’ di daerah pascaperang itu. Atau mungkin saja, dengan cara pandang yang sedikit ‘nakal’, demokrasi liberal hanya sekadar komoditi dari sistem ekonomi kapitalis lanjut. Mengapa? Karena dia hanya digunakan sebagai dalih saja, yakni proses demokratisasi di negara yang selama bertahun-tahun tunduk di bawah rezim diktator. Toh, masa rekonstruksi pascaperang justru menjadi lahan baru bagi perusahaan-perusahaan besar, tanpa pernah berpikir tentang praktik kekerasan yang menghantarkan mereka sehingga dapat meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.
Yogyakarta, 2 Januari 2011
Pohon mangga paruh baya
tumbuh teduh di depan rumahmu
di antara pot-pot kecil, kawan-kawannya
waktu masih benih dulu:
__________mawar, pandan, kamboja,
__________talas, suji, juga rumput teki
Dia selalu setia jadi yang ketiga
kala kita asyik duduk berdua
mengobrolkan apa saja: lalu tanpa sadar
__________kita pungut daunnya yang lurut
__________kita sobeki tanpa arti
__________(gagap dan gugup berlomba kita tutupi)
Kubayangkan saat musim petiknya tiba
kita kecap manis buahnya berdua
dan dia pun bergoyang di atas kita bersama udara
Masih saja setia menjadi yang ketiga,
__________yang keempat bulir embun di bibir daunnya
__________yang kelima seekor gereja yang numpang hidup
__________bersama bayi-bayinya
Tapi sore itu ada yang salah
dari halaman rumahmu
Pohon mangga paruh baya sudah tak ada!
Seseorang telah memaksa sang akar bersabar
__________mengasuh calon tunasnya
__________agar kelak jadi entah yang ke berapa
__________meneduhi gelak tawa anak-anak kita
Agar bisa membaca sajak berfrasa-frasa
saya butuh cahaya
saya butuh Anda
Hujan meneduhkanmu dari ketergesa-gesaan
Lalu angin mendesir getir, pada sela-sela pasak
penyangga hidupmu, pada kobar tungku
pengusir sementara dinginmu
Kepul-kepul asap kretek adalah
pelacur paling setia
Juga bait-bait dhandanggula
oleh dalang tua dari radio tua
Atau tiba-tiba hentakan tabla
− datang merangsek entah dari mana
Menunggu matinya malam dan
istri tercintanya: hujan…
(Lalu perahumu berlabuh pada subuh
yang merekah merah, pecah!)
“Sudahlah, Dik, terserah saja
Mungkin memang kuwalatku
karena tega membalik waktu
Tapi ingat! Masa depan sudah
sejak lama meninggalkan saya”
Sebagai laki-laki saya sepenuhnya sadar, ketika berhadapan dengan seorang perempuan saya akan memperlakukannya sepenuhnya sebagai seorang perempuan. Tanpa pernah ada tendensi untuk berpretensi (bahkan pada tataran yang paling 'pola pikir' sekalipun) untuk menjadi seorang perempuan. Maka, seperti saya bilang di atas, saya kaget betul dengan ucapan kawan tersebut, karena saya benar-benar tidak sadar bahwa entah cepat atau lambat perlakuan saya terhadap mereka telah berubah laiknya perlakuan seorang perempuan terhadap perempuan yang lain.
Saya betulan tidak paham. Lalu pikiran saya mulai berlarian kesana-kemari, mulai mengaitkan satu hal dengan hal lain. Jangan-jangan inilah kecenderungan pada mereka yang mengidap, atau merasa mengidap, oedipus complex. Sedikit mengingat mitos Yunani kuno itu, Sang Oedipus (pun) sepenuhnya tidak menyadari bahwa dia telah membunuh ayah kandungnya, dan pada akhirnya mengawini ibu kandungnya sendiri. Ya. Parabelnya: saya sepenuhnya juga tidak sadar bahwa identifikasi terhadap sosok kelaki-lakian, 'ayah konseptual', atau maskulinitas, telah perlahan-lahan saya bunuh. Dan satu-satunya subjek yang paling mungkin untuk saya identifikasidirikan adalah sosok keperempuanan atau feminitas. Mungkin faktor psikologis (atau psikoanalisis?) itulah yang membuat saya pada akhirnya dicap sebagai setengah perempuan.
Sebenarnya saya sempat berpikir untuk mengamini saja dakwaan kawan tersebut. Asumsi saya: pertama, dia punya objektifitas tersendiri ketika berkata seperti itu, lagi-lagi karena dia seorang perempuan; kedua, mungkin apa yang saya pikirkan di atas soal pengidap oedipus complex memang benar adanya, dan berpengaruh (dalam kasus ini) terhadap cara mereka memperlakukan lawan jenis mereka. Lagi-lagi dalam rangka ketika laki-laki sedang memperlakukan perempuan.
Namun pada akhirnya saya merasa hal tersebut cuma niscaya dalam konteks pertemanan atau persahabatan belaka. Karena, bagaimana kalau pertanyaannya kita balik: apa jadinya jika saya bertemu dengan calon istri yang berkebalikan 180 derajat dengan saya, yang ternyata dia telah lama merindukan sosok ekstra-maskulin, yang telah lama pula absen dalam kehidupannya? Apakah saya harus memaksakan diri untuk mencari sosok feminin secara fisis namun maskulin secara psikologis?
Aduh, sudahlah! Lagi-lagi saya cuma meracau. Mungkin ini efek tidur terlalu larut dan terbangun terlalu dini saat pagi saja masih terlalu sepi. "Kamu tidak sedang menulis, Pram. Kamu berak!", kata Idrus kepada fans beratnya: Pramoedya Ananta Toer.
Tarzan Kota, atau Kerbau Yang Dicolok Hidungnya
Awal semester genap, seperti sekarang ini, selalu jadi momen tersendiri bagi para siswa (juga orang tuanya) yang hampir habis jatahnya duduk di bangku sekolah menengah atas. Kenapa bisa? Tentu saja, ada serentetan fase kecil yang harus mereka hadapi sebelum melangkahkan kaki menuju fase besar dalam hidup mereka. Maksud saya, para siswa harus melewati fase ujian akhir yang bakal menentukan lulus tidaknya mereka dari almamater yang menempa mereka selama tiga tahun. Eh, tunggu dulu, belum selesai sampai di situ! Selanjutnya mereka bakal diperas otaknya untuk memikirkan jawaban dari satu pertanyaan, yang mungkin selalu jadi hantu yang menggentayangi semua anak didik di negeri ini, termasuk saya sendiri: “Nak, setelah lulus sekolah, mau ngelanjutin kuliah atau langsung kerja?”
Menarik untuk menelusur ke belakang kemunculan pertanyaan di atas. Okelah, hal itu sudah jadi logika umum pada masyarakat kita, bahwa mereka jelas tidak mengharapkan para lulusan sekolah menengah atas luntang-lantung jadi pengangguran. Maka muncul pilihan: kuliah atau kerja. Karena hanya dua pilihan itu yang mungkin dijalani oleh sang lulusan.
Tapi, sedikit melompat jauh, sebenarnya saya tertarik dengan satu logika (yang mungkin berkembang secara umum juga), tentang satu linear yang musti dijalani para anak didik. Logika yang saya maksud adalah “polarisasi nasib” lulusan SMA dan lulusan SMK. Yang selama ini terpikir di nalar masyarakat kita adalah bahwa lulusan SMA “seharusnya” meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (baca: bangku kuliah). Dan para lulusan SMK “seharusnya” bisa langsung masuk ke dunia kerja. Diakui atau tidak, mindset itulah yang berlaku, khususnya pada para tenaga pendidik yang pada akhirnya ditularkan pula kepada anak didik mereka. Kalau boleh merubah satu peribahasa kuno: Bagaikan makan buah simalakama, masuk SMA harus kuliah, masuk SMK harus kerja…
Mereka yang memutuskan masuk SMA setelah lulus sekolah menengah pertama, dari awal sudah disadarkan akan konsekuensi yang harus mereka tanggung setelah lulus SMA, yakni masuk bangku kuliah. Argumen pembenarnya: di SMA para siswa bakal diajari pengetahuan-pengetahuan dasar yang sifatnya konseptual, yang harus mereka asah selama berproses di
Namun sejak awal marilah kita lepaskan pembicaran ini dari munculnya fenomena lulusan SMA yang langsung kerja, atau sebaliknya, lulusan SMK yang meneruskan pendidikannya di bangku kuliah. Eh, tidak jadi ding! Justru di situ letak permasalahannya!
Sebenarnya saya mau curhat saja lewat tulisan ini. Bayangkan: Anda memiliki seorang adik. Usia kira-kira 17-18 tahun. Saat lulus SMP, dia sangat menggebu-gebu ingin masuk SMK. Argumen dia adalah, bahwa para guru di SMP-nya mendorong para lulusan mereka untuk masuk ke SMK, dengan berpijak pada (kalau tidak salah) imbauan Menteri Pendidikan yang menargetkan 70% lulusan SMP harus masuk SMK, dalam rangka menyiapkan tenaga kerja terampil guna menghadapi tantangan pasar bebas. Dan hal itu menjadi satu euforia bahkan utopia baginya dan teman-teman seangkatannya. Dengan berbekal tekad, semangat, usaha, dan utopia tadi, dengan tergopoh-gopoh berangkatlah dia mendaftar di salah satu SMK. Dan, voila!, diterimalah dia di sekolah itu. Selama bersekolah di
Saya pun sadar, bahwa hal itu mungkin bukan sesuatu yang melulu buruk baginya. Bisa jadi merupakan satu lompatan revolusioner bila dibandingkan dengan teman-teman seangkatannya yang (mungkin) lebih memilih untuk bekerja setelah lulus – atau sialnya jadi pengangguran, karena tak memiliki cukup kompetensi dan koneksi. Namun dari hal itu saya melihat suatu kejanggalan tersendiri. Dia begitu kedodoran menghadapi serangkaian hal yang harus dia jalani agar bisa masuk ke perguruan tinggi. Satu contoh sederhana, saat dia harus menentukan jurusan apa yang bakal dia pilih di perguruan tinggi. Kenapa? Karena dia tidak terlalu paham (atau malahan tidak pernah membayangkan bakal bertemu) dengan terminologi-terminologi aneh namun selalu berlaku macam passing-grade: yakni seberapa besar peluangnya diterima di satu jurusan tertentu bila ditinjau dari berapa banyak kuota yang bisa diisi calon mahasiswa serta seberapa banyak pula peminat jurusan tersebut. Belum lagi bila harus membandingkan passing-grade satu jurusan dengan jurusan yang lain.
Mungkin di sekolahnya, atau di semua SMK, tata-pikir bahwa setelah lulus langsung kerja tersebut hampir berlaku mutlak. Dari kasus si adik, saya jadi curiga bahwa iklim pendidikan dan pengajaran di SMK tidak menyisakan tempat untuk para lulusannya yang ingin meneruskan ke perguruan tinggi. Artinya, tidak ada pembimbingan bagi anak didik yang “kasuistik” tersebut, guna memberikan bekal kepada mereka hal-hal yang terkait dengan seleksi masuk perguruan tinggi. Minimal menjelaskan kepada mereka, apa sih artinya passing-grade itu? – syukur-syukur bisa menguak, siapa orang dungu nan sok tahu yang bikin istilah aneh yang sama dungunya itu. Mungkin hal ini juga berkat pengaruh dari teman bermainnya yang mayoritas terdogma untuk setelah lulus langsung kerja.
Atau, jangan-jangan ketidaksiapan ini pun terjadi pada para pendidik di SMA, yang tergopoh-gopoh karena menghadapi anak didik “kasuistik” mereka yang justru ingin langsung kerja? Karena sepengalaman saya selama tiga tahun bersekolah di SMA, memang tidak pernah diajarkan, atau minimal dijelaskan, trik-trik apa yang bisa dilakukan lulusan SMA seandainya mereka tidak diterima di (atau memang tidak ingin masuk) perguruan tinggi. Tidak pernah dijelaskan kerja apa yang cocok dan sesuai dengan kompetensi lulusan SMA, yang notabene memang tidak se-practical para lulusan SMK. Minimal untuk mengisi kekosongan waktu (baca: nganggur) bagi mereka yang ingin kembali mengundi nasib dengan mendaftar kuliah lagi tahun depan.
Jangan lalai pula, bahwa dari masalah di atas yang mungkin terkesan sepele, terkadang muncul hipotesis-hipotesis yang sejatinya tak punya landasan argumen yang kuat. Bagi mereka yang sudah mapan dengan pekerjaan akan bilang: “Alah… jaman sekarang sekolah nggak usah tinggi-tinggi. Tuh, banyak sarjana pada nganggur kok!” Di lain pihak, mereka yang sudah tak lagi berpikir urusan perut alias subsistensi, dan leha-leha di bangku perguruan tinggi, bakal menyeletuk: “Kalau ingin membiarkan bangsa ini sekadar jadi bangsa pekerja untuk bangsa lain… ya sudah, suruh saja semua lulusan SMP masuk SMK!”
Pada akhirnya, bagi saya, output dari rentang pendidikan di sekolah menengah atas, SMA ataupun SMK, tidak tergantung dari plot linear yang sudah ditata sejak awal, seperti telah dijelaskan di atas. Keluaran dari rentang pendidikan – entah dari jenjang manapun – bergantung pada proses yang dijalani dan lalu dimaknai oleh masing-masing peserta didik. Dari rentang tersebut, banyak hal yang lagi-lagi, “seharusnya”, bisa diperoleh dan dipelajari oleh para siswa. Segala hal, entah yang berkaitan dengan proses pendidikan formal itu sendiri, atau justru yang langsung menyinggung keseharian hidup mereka. Sehingga, ketika sampai pada satu fase kritis seperti itu, mereka (atau kita) tidak akan sekadar jadi Tarzan yang tersesat di tengah kota, atau bahkan kerbau yang dicolok hidungnya.
“Hei Bung, ini lho wajah pendidikan
Gampingan, 8 Maret 2010.
Tentang Saya
- Damar Nugrahono Sosodoro
- Yogyakarta, DIY, Indonesia
- Tarung batin antara apollonian dan dionysian, meski tidak pernah memenangkan siapa-siapa. Senang berkenalan dengan Anda!



