Sore itu, matahari pelan-pelan melepas baju putihnya
Lewat ventilasi ia intip wajahmu yang sedikit tegang
Mungkin karena direpotkan oleh pertanyaan: apa beda
yang sekarang dan yang akan datang
Diam-diam digandengnya tanganmu untuk sejenak istirah
berkawan rindangnya mangga, di bangku usang depan rumah
Dari kejauhan sayup-sayup bunyi kereta
juga riangnya kanak-remaja berangkat TPA
Duduk di atas sepeda adalah aku, memandangmu dari kejauhan
Ikal rambutmu tak pernah berubah: jadi jingga bila terpapar senja
Meski aku ingat betul ia sebenarnya kecokelatan
Ah... apalah gunanya mata bila tak ada cahaya!
Bolehkah kuhampiri, lalu duduk berdua
mulut sunyi, hanya pandang mata ke barat sana?
Biar saja kita selalu alpa: antara aku, kamu, dan waktu
siapa yang sesungguhnya mesti bicara lebih dulu
Karena buat seorang lelaki pemalu, semua seolah selesai
Saat percakapan yang beku terbayar tatap-muka yang damai
Di kamar ini musim tak lagi kita kenali
Dikurungnya hangat rapat-rapat, sementara di luar
hujan yang tempias pada teras membuatmu gusar.
Atau diundangnya sejuk, mungkin juga kantuk
Kala terik kemarau memantul pada aspal
di rute jalanpulangku yang sudah lama kuhafal.
Detak waktu seolah henti berbunyi
atau justru tumpah ruah, entahlah
Mungkin mengintip kita berdua yang tengah asyik
bicara soal sejarah, pantai tempat tetirah, kebun kamboja
atau soal asmara yang kabarnya selalu mendua.
Lalu pada suatu pagi, anak-anak mentari diam-diam
menyelinap ke kamar ini lewat ventilasi. Diikuti
bau kecut rambutmu yang kekal pada sarung bantal.
Mata kita terbuka hampir bersama. Sesimpul tawa.
Ah, lelah kita telah lerai pada kisut sprei…
Nama memang tak penting buat kamar ini.
Karena akan tetap ada spasi
buat selarik melankoli.
Sore itu orang-orang sekampung
nimbrung, bergunjing tentang seorang wanita.
Tangisnya miris, meratapi yang mati:
anjing kesayangannya
Kabarnya, seorang pria muda nan perkasa
(yang belakangan jadi suami barunya)
telah menggorok si anjing tua. Bengis, bak mengusap najis
tanpa kata, tanpa aba-aba, tanpa dosa…
Tubuh gelepar, urat-urat getar, darah tebar!
Leher putus, pertanda hitung mundur menuju mampus
Anyir bau darah yang percik pada terompah
Menuntun si anjing pikun pada maut
yang, barang sekali saja, tak pernah luput
Kata mereka, sesaat saja mata sang wanita pelan-pelan berkaca-kaca.
Karena tak kan dia dengar lagi gonggong yang sumbang
pada tiap senja jingga, menjemput malam ungu datang
(atau jilatan mesra, saat malam berlabuh pada semilir subuh)
Tak kan dia salahkan si pria muda nan perkasa
yang belakangan dinikahinya. Meski dosa telah dicatat
lipat ganda: wanita itu adalah ibu kandungnya
Si anjing tua adalah ayah kandungnya
Sang pria muda diam. Api damar padam. Malam jadi kelam…
Dia ingat kata Muhammad: Jangan kau terlalu membenci!
Siapa tahu, cinta kan pelan-pelan bersemi…
“Oh, Ibuku! Cintaku padamu polos tanpa nafsu
seperti putih air susu. Cerai kita mencair, terganti
pada bakti yang mungkin hanya sebesar biji sawi
Kau tahu, rinduku padanya membatu: haru-biru!
Biar kumakamkan jasad ayah
dengan tanganku…”
Tentang Saya
- Damar Nugrahono Sosodoro
- Yogyakarta, DIY, Indonesia
- Tarung batin antara apollonian dan dionysian, meski tidak pernah memenangkan siapa-siapa. Senang berkenalan dengan Anda!
