Di kamar ini musim tak lagi kita kenali
Dikurungnya hangat rapat-rapat, sementara di luar
hujan yang tempias pada teras membuatmu gusar.
Atau diundangnya sejuk, mungkin juga kantuk
Kala terik kemarau memantul pada aspal
di rute jalanpulangku yang sudah lama kuhafal.
Detak waktu seolah henti berbunyi
atau justru tumpah ruah, entahlah
Mungkin mengintip kita berdua yang tengah asyik
bicara soal sejarah, pantai tempat tetirah, kebun kamboja
atau soal asmara yang kabarnya selalu mendua.
Lalu pada suatu pagi, anak-anak mentari diam-diam
menyelinap ke kamar ini lewat ventilasi. Diikuti
bau kecut rambutmu yang kekal pada sarung bantal.
Mata kita terbuka hampir bersama. Sesimpul tawa.
Ah, lelah kita telah lerai pada kisut sprei…
Nama memang tak penting buat kamar ini.
Karena akan tetap ada spasi
buat selarik melankoli.
Gampingan, 17 Juli 2011
…dan lalu pena tergores (sedikit terbata)
di atas lembab nisan batu:
“bagaimana mungkin kau ada di neraka,
bila nyata-nyata kau ada di hatiku?”
Yogyakarta, 30 Oktober 2011
"Aku takut - atau sekadar gamang - menatap masa depan yang belakangan tak lagi gamblang...", katamu. Lalu pelan-pelan ujung telunjukmu mendarat di manset kemejaku. Tahun menggugur daun, penghujan padam, kemarau bersih pada bunga-bunga tembakau. Kamu tetap seperti yang dulu: dahaga pada kata, dendam pada gumam, rindu pada abu-abu yang dibekukan waktu. Apa daya: aku juga sepertinya sama saja. Berdamai dengan masa lalu jelas tak mungkin, meski perahu jauh mengarung lautan yang dingin (di belakangku, dermaga telah hangus bersama humus). Yang setara tak selamanya menyenangkan, karena pada trauma aku tak ingin diingatkan...
Yogyakarta, 10 Juni 2011
- buat Bapak
Sore itu orang-orang sekampung
nimbrung, bergunjing tentang seorang wanita.
Tangisnya miris, meratapi yang mati:
anjing kesayangannya
Kabarnya, seorang pria muda nan perkasa
(yang belakangan jadi suami barunya)
telah menggorok si anjing tua. Bengis, bak mengusap najis
tanpa kata, tanpa aba-aba, tanpa dosa…
Tubuh gelepar, urat-urat getar, darah tebar!
Leher putus, pertanda hitung mundur menuju mampus
Anyir bau darah yang percik pada terompah
Menuntun si anjing pikun pada maut
yang, barang sekali saja, tak pernah luput
Kata mereka, sesaat saja mata sang wanita pelan-pelan berkaca-kaca.
Karena tak kan dia dengar lagi gonggong yang sumbang
pada tiap senja jingga, menjemput malam ungu datang
(atau jilatan mesra, saat malam berlabuh pada semilir subuh)
Tak kan dia salahkan si pria muda nan perkasa
yang belakangan dinikahinya. Meski dosa telah dicatat
lipat ganda: wanita itu adalah ibu kandungnya
Si anjing tua adalah ayah kandungnya
Sang pria muda diam. Api damar padam. Malam jadi kelam…
Dia ingat kata Muhammad: Jangan kau terlalu membenci!
Siapa tahu, cinta kan pelan-pelan bersemi…
“Oh, Ibuku! Cintaku padamu polos tanpa nafsu
seperti putih air susu. Cerai kita mencair, terganti
pada bakti yang mungkin hanya sebesar biji sawi
Kau tahu, rinduku padanya membatu: haru-biru!
Biar kumakamkan jasad ayah
dengan tanganku…”
Yogyakarta, 10 April 2011
Di sudut perpustakaan itu
Pada secarik catatan, diam-diam
kutulis sajak buatmu.
Latar belakangku deretan rak
penuh buku-buku. Di sampingku
setumpuk antologi puisi:
yang liris, yang sureal,
yang biasa dibuat koar-koar
di atas mimbar.
Ah, pertemuan kita tak teramat naif
Lebih arif dari sekadar kencan buta
(pada suatu Sabtu, kau pinjami aku
sebuah buku. Dengan tinta
merahmuda, tertera di sudutnya:
cinta berawal dari pustaka…)
Di sudut lain, di sebelah rak
dengan tanda 895: Sastra Indonesia
Seseorang dengan mata pedih, berkata lirih:
“kembalilah ke dunia nyata, hai kau Penyair Muda!”
Tik-tok waktu tiba-tiba
henti membatu
Sial! Hilang kemana
kertas catatanku?
Yogyakarta, 24 Maret 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
Tentang Saya
- Damar Nugrahono Sosodoro
- Yogyakarta, DIY, Indonesia
- Tarung batin antara apollonian dan dionysian, meski tidak pernah memenangkan siapa-siapa. Senang berkenalan dengan Anda!
