Mirzmade

ikhtiar memelihara klangenan bernama aksara

04.06

Aku, Kamu, dan Foto Yang Kau Sobek Separuh Itu

Diposting oleh Damar Nugrahono Sosodoro |


Aku tak mendapat cukup info soal siapa pria yang sefoto denganmu itu. Lantas alasan apa yang membuatku harus cemburu padamu, Sayangku?

Yogyakarta, 7 Maret 2011.
Foto adalah potongan adegan dalam film "Breathless" [Jean-Luc Godard, 1960]

11.09

Dan Kematian Makin Akrab

Diposting oleh Damar Nugrahono Sosodoro |

Di muka pintu masih
bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali
Memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak
mengerti—mengapa ia tinggal diam
waktu berpisah. Bahkan tak
ada kesan kesedihan
pada muka
dan mata itu, yang terus
memandang, seakan mau bilang
dengan bangga:—Matiku muda—
Ada baiknya
mati muda dan mengikut
mereka yang gugur sebelum waktu
Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit
tua, melainkan dia
yang berdiri menentang angin
di atas bukit atau dekap pantai
di mana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam
di gigir gunung atau di taman-taman
di kota
tempat anak-anak main
layang-layang. Di jamlarut
daun ketapang makin lebat berguguran
diluar rencana
Dan kematian jadi akrab, seakan kawan
berkelakar
yang mengajak
tertawa—itu bahasa
semesta yang dimengerti
Berhadapan muka,
seperti lewat kaca
bening
Masih dikenal raut muka,
bahkan kelihatan bekas luka
dekat kening
Ia menggapai tangan
di jari melekat cincin.
—Lihat, tak ada batas
antara kita. Aku masih
terikat kepada dunia
karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih,
juga angan-angan dan selera
keisengan—
Di ujung musim
dinding batas bertumbangan
dan
kematian makin akrab.
Sekali waktu bocah
cilik tak lagi
sedih karena layang-layangnya
robek atau hilang
—Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit—

(Subagio Sastrowardoyo, 1970)



08.59

Pagi Ini

Diposting oleh Damar Nugrahono Sosodoro |

Di langit, arak-arakan awan ke utara
Lalu mendung diam-diam
menguntit dibelakangnya
(ah, hujan tinggal menunggu waktu
untuk ditaburkan!)

Di darat, keretaangin lalu-lalang.
Tergesa. Mungkin berlomba dengan
tik-tok jam: mengejar nasib yang sudah
sampai duluan di garis depan

Di kamar, lamat-lamat kudengar
seniman asing berlagu tentang kematian
yang gapyak itu. Katanya: “bencana
bisa diciptakan kapan saja!”

Di gunung itu, aku tak tahu
masihkah Sisifus setia mendorong batu?
Salahnya telah diganjar sebuah hukuman
Sesalnya dia bayar dengan pengulangan-pengulangan

Kata orang: hidup ini apokaliptik
Kata yang lain: sejarah belum sampai titik!

Dan katamu, Sayangku:
“Akan kubawa kau terbang
ke pantai yang sepi nan lapang.

Meski kita tahu, di atas cakrawala itu
berserakan batu, bilah kayu, pecahan botol, dan
gedung-gedung yang hitam terpanggang…”

Gampingan, 2 Maret 2011



03.14

Liberté

Diposting oleh Damar Nugrahono Sosodoro |

On my school notebooks
On my desk and on the trees
On the sands of snow
I write your name

On the pages I have read
On all the white pages
Stone, blood, paper or ash
I write your name

On the images of gold
On the weapons of the warriors
On the crown of the king
I write your name

On the jungle and the desert
On the nest and on the brier
On the echo of my childhood
I write your name

On all my scarves of blue
On the moist sunlit swamps
On the living lake of moonlight
I write your name

On the fields, on the horizon
On the birds’ wings
And on the mill of shadows
I write your name

On each whiff of daybreak
On the sea, on the boats
On the demented mountaintop
I write your name

On the froth of the cloud
On the sweat of the storm
On the dense rain and the flat
I write your name

On the flickering figures
On the bells of colors
On the natural truth
I write your name

On the high paths
On the deployed routes
On the crowd-thronged square
I write your name

On the lamp which is lit
On the lamp which isn’t
On my reunited thoughts
I write your name

On a fruit cut in two
Of my mirror and my chamber
On my bed, an empty shell
I write your name

On my dog, greathearted and greedy
On his pricked-up ears
On his blundering paws
I write your name

On the latch of my door
On those familiar objects
On the torrents of a good fire
I write your name

On the harmony of the flesh
On the faces of my friends
On each outstretched hand
I write your name

On the window of surprises
On a pair of expectant lips
In a state far deeper than silence
I write your name

On my crumbled hiding-places
On my sunken lighthouses
On my walls and my ennui
I write your name

On abstraction without desire
On naked solitude
On the marches of death
I write your name

And for the want of a word
I renew my life
For I was born to know you
To name you

Liberty.

(Paul Eluard, 1940)

01.43

Di Antara Gugur Cemara

Diposting oleh Damar Nugrahono Sosodoro |

Di antara gugur cemara
dan cubit surya yang malu-malu
lamat-lamat kulihat wajahmu

Kaupungut satu yang jatuh di pasir:
kering, layu, ranggas
lalu kabur bersama muson barat

Ah, pertemuan selalu gegas
Meski salah satu kita datang terlambat

Senja telah beruluk salam, Abang...
Tapi tak jua kau antarkan aku pulang

Aku masih waras. Masih bisa
menulis sebait prosa, tentang ikal yang jatuh
perlahan di antara senyummu

Tentang anak-anak puisi
yang selalu mengusik tidurku itu?

Apa kita musti pulang sendiri-sendiri?
Kurasa begitu...

Aku mau naik pedati

Aku pilih jalan kaki

Yogyakarta, 14 Februari 2011

Subscribe